MACET PASTI TERURAI

Last Updated on Monday, 14 January 2013 16:11

By: Dr Ade Asmi, ST, M.Sc
Head of Civil Engineering Department
Universitas Bakrie
Jakarta, Indonesia

Pernah dengar kalimat di atas? Seperti sebuah khayalan mungkin iklan atau janji kampanye sebuah partai???……mungkin begitu….akan tetapi memang itulah mimpi kita bersama……terutama bagi anda yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Masalahnya bagaimana mewujudkannya? Caranya? Solusinya dong???.....

nah itu juga yang sedang di pikirkan oleh pemerintah  kita sekarang dalam hal ini PEMDA Jakarta…..bukannya tidak ada solusi akan tetapi mungkin saking begitu banyaknya solusi yang ditawarkan ke Pemda DKI dengan berbagai skema dan solusi transportasi baik dari LSM, perusahaan swasta maupun BUMN dll….Pemda DKI pun makin bingung menentukan pilihan…. Mulai dari solusi penambahan jalan Toll, Busway laying, MRT dll……ibarat kata kalau mau beli baju pilihannya banyak tinggal pertimbangan harga, motif, bentuk baju, selera dll…

 

Pemda DKI wajar kalau harus bingung….mengapa demikian?....bayangkan untuk memenuhi pelayan transportasi ke Ibukota, begitu banyak arus perjalanan dari berbagai arah ke Ibu kota belum lagi berbagai faktor lain yang menjadi pertimbangan seperti kelayakan investasi, pembebasan lahan, masalah sosial, ruang terbuka hijau dll. Berdasarkan studi Jabodetabek Pubic Transportation Policy Implimentation Strategy (JAPTrapis) pada tahun 2011, sebanyak 3,6 juta orang dari Bodetabek melakukan perjalanan  ke Ibu kota setiap harinya dimana sebanyak 1.158.486 orang dari Tangerang, 1.330.544 orang dari Bekasi, dan 1.185.403 orang dari Bogor dan Depok. Dimana jumlah penduduk DKI sekitar 9.607.000 orang sehingga jumlah orang yang beraktivitas di DKI ketika hari kerja sekitar 13.281.433 orang.

 

Kalau anda melakukan perjalanan ke DKI Jakarta dari tahun ke tahun cobalah anda amati diperlukan berapa lama jam perjalanan yang harus anda perlukan? Apakah ada perbedaan dari tahun ke tahun?.....secara normal jawabannya “pasti ada”….karena dengan seiring meningkatnya jumlah kendaraan sekitar 11% pertahun yang melewati Ibu kota dengan panjang jalan hanya bertambah kurang dari 1% per tahun dan di tambah 36 juta perjalanan/hari di Jabodetabek dengan sarana pelaku perjalanan 56,8 % dengan motor dan mobil, 40,4% Non Motorize, Kereta Api 2,8%.

 

Jadi seperti apakah solusi pembangunan transportasi Jakarta??????........Sambil mencoba berangan-angan…Idealnya di setiap pembangunan infrastruktur untuk kepentingan umum, pilihan yang terbaik adalah Investasi infrastruktur yang tidak membebani terlalu besar terhadap APBD dan APBN. Untuk itulah diperlukan skema Public Private Partnership bagi pengadaan infrastruktur dimana pihak swasta harus lebih jeli dalam memberikan opsi business model ke pemerintah dalam hal “Win-Win Solution”.  Tanpa memandang berbagai kepentingan politik dan fokus kepada kepentingan masyarakat pengguna jalan di Jakarta selama dari segi pendanaan investasi menguntung semua pihak, sepertinya pihak pemerintah tidak perlu bimbang untuk mengambil keputusan. Untuk itulah diperlukan kreativitas dan inovasi dari pengusul proposal infrastruktur transportasi Jakarta agar memenuhi keinginan semua pihak.

 

Mengembangkan system angkutan umum massal sebagai back bone transportasi yang di dukung feeder system, pengembangan kawasan dengan konsep Transit Oriented Development. Dimana mengurangi pergerakan kendaraan dengan menciptakan ruang wilayah yang menyediakan kualitas kehidupan perkotaan yang PRODUKTIF dan INOVATIF sehingga meningkatkan roda ekonomi Jakarta maupun secara Nasional. Pengembangan kawasan penataan kota dengan konsep Transit Oriented Development yang memerlukan kerjasama dengan pihak swasta untuk berinvestasi dan mengambil resiko berdasarkan pola transportasi yang diusulkan. Konsep ini menyediakan terkoneksinya antara tempat transit angkutan umum massal dengan gedung-gedung disekitar kawasan transit sehingga mengurangi pergerakan orang dengan kendaraan dan memberikan kenyamanan bagi pergerakan orang secara Non Motorize.

 

Pembangunan infrastruktur system transportasi yang diusulkan mestilah Dapat mengurangi Masalah Sosial. Sebagaimana lazimnya di Indonesia, pembangunan konstruksi terkadang selalu diiringi dengan masalah sosial. Mulai dari pembebasan lahan, masalah tariff angkutan dll.

Pembangunan transportasi Jakarta juga mesti memperhatikan Masalah  Lingkungan dengan lebih memberikan nuasa hijau serta ruang terbuka hijau bagi mengurangi efek global warming dan efek emisi CO2 ke udara. Masalah lain adalah dapat mengurangi Limpahan Air Hujan dengan mengatur drainase air hujan untuk Mengurangi Resiko Banjir di Jakarta.

 

Akhir kata, Diperlukan keinginan, kerja keras dan kerjasama semua pihak untuk mewujudkan mimpi indah transportasi yang aman dan lancar di Jakarta……….Selamat Tahun Baru 2013….semoga tahun depan Jakarta akan semakin lebih baik….amien……

 

  • PDF